:: SELAMAT DATANG di Media Online “BERITA.Com” ::

Sabtu, 04 Juli 2009

OPINI


MASALAH KEAMANAN MAKANAN KINI

SEMAKIN KOMPLEKS

Oleh: Redi Mulyadi,S.Sp

POLA makan masyarakat Indonesia kini mengalami pergeseran dari tradisional semisal mengkonsumsi tahu dan tempe beralih ke pola makan yang serba banyak mengandung lemak.Sehingga tak mengherankan,bila banyak masyarakat Indonesia kini menderita penyakit degeneratif seperti penyakit jantung,hipertensi dan diabetes mellitus akibat obesitas (kegemukan).

Namun masyarakat umumnya belum begitu memperhatikan keamanan pangan yang dikonsumsikan.Hal ini terbukti,misalnya dari banyaknya makanan jajanan yang tiap hari dikonsumsi anak-anak dan masyarakat pada umumnya tanpa melihat apakah makanan tersebut aman untuk dikonsumsikan atau tidak.Mungkin pengawasan masyarakat terhadap keamanan pangan terbatas pada bersih-tidaknya makanan yang akan dibeli, dilihat dari penampilan luar makanan tersebut.

Padahal,risiko bahaya yang mengancam keamanan pangan dapat berasal dari lingkungan (limbah industri dan pestisida),faktor kesengajaan (bahan

tambahan makanan berbahaya),lemahnya system peraturan perundangan, ketidakpedulian masyarakat konsumen serta lemahnya komunikasi akademik yakni pendidikan dan pelatihan.Selain itu,risiko bahaya juga berasal dari penyediaan air yang tak memenuhi syarat dan tekanan ekonomi.

Kebutuhan masyarakat akan keamanan pangan bersifat dinamis.Kalau kecukupan kuantitas belum tercukupi,maka kebutuhan akan keamanan pangan (food security) relative rendah.Sebaliknya,pada saat persediaan pangan melimpah,kebutuhan akan keamanan pangan relatif sangat tinggi.

Dengan demikian,tingkat kesejahteraan berpengaruh pada tingkat kebutuhan keamanan pangan.Selain itu,kesadaran masyarakat akan kesehatan dan gizi dapat pula mempengaruhi tingkat kebutuhan keamanan pangan.

Adapun masalah keamanan pangan adalah dampak dari hasil interaksi antara toksisitas mikrobiologik,toksisitas kimiawi dan status gizi.Toksisitas biologic dan kimiawi terhadap bahan pangan bisa terjadi pada mata rantai penanganan pangan mulai dari saat pra-panen,pascapanen,pengolahan di pabrik maupun rumah,penyimpanan,transportasi dan distributor hingga saat produk pangan disajikan kepada konsumen.

Ini terbukti sebagai upaya meningkatkan produksi dan pencegahan hama maupun penyakit,seringkali pestisida yang disemprotkan ke tanaman ternyata meninggalkan residu di dalam bahan pangan.Selain itu,pencemaran lingkungan baik dari darat,air atau udara memungkinkan bahan pangan terkontaminasi dengan logam-logam berat atau mikroba pathogen.

Masalah keamanan pangan semakin kompleks seiring dengan bnerkembangnya peradaban manusia,kemajuan ilmu dan teknologi.Sehingga diperlukan suatu system pengawasan pangan yang harus diterapkan mulai sejak makanan itu diproduksi,diolah,ditangani,diangkut,disimpan dan didistribusikan sampai dihidangkan.

Makanan yang tidak aman dikonsumsi bisa menimbulkan foodborne disease,yaitu gejala penyakit yang timbul akibat mengkonsumsi makanan yang mengandung bahan beracun atau organisme pathogen.Penyakit semacam ini ternyata masih sering terjadi di Indonesia.

Berdasarkan gejala yang ditimbulkannya bisa dibedakan atas penyakit menular dan gejala keracunan makanan.Sumber penyakit menular biasanya adalah makanan atau minuman yang dijajakan oleh para pedagang di pinggir jalan atau di warung-warungdan makanan yang dibuat di rumah-rumah penduduk yang dipersiapkan tanpa memperhatikan segi kebersihan.

Sementara sumber keracunan makanan,seperti hasil penelitian Bryan (1992) di Amerika Serikat menunjukkan 77 persen kasus keracunan makanan disebabkan oleh makanan yang dipersiapkan oleh industri jasa boga (catering atau restorant),kemudian 20 persen kasus disebabkan oleh makanan yang dimasak di rumah,dan hanya 3 persen disebabkan oleh makanan yang diproduksi industri pangan.

Hal itu menunjukkan,bahwa di Negara maju pun industri jasa bosa merupakan sumber penyebab timbulnya keracunan makanan yang harus diperhatikan.Sedangkan produk industri pangan kecil perannya sebagai penyebab keracunan makanan.Walaupun demikian,karena produk itu menimbulkan keracunan,maka jumlah penderita per kasus sangat tinggi.Selain itu,bila produk pangan tersebut di ekspor maka dampaknya adalah kerugian ekonomi yang sangat besar,karena ditolaknya produk itu oleh negara pengimpor.

Pencegahan terjadinya wabah penyakit menular dan keracunan makanan dapat dilakukan, di antaranya dengan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kebersihan lingkungan,penggunaan air dan bahan pangan yang bermutu baik,serta perbaikan dalam proses produksi,pengolahan, pengemasan,penyimpanan,pengangkutan dan penjualan.****

REDI MULYADI

PO.Box: 05/IH

Tasikmalaya 46151

e-mail: redi_mulyadi2000@yahoo.co.id

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar