:: SELAMAT DATANG di Media Online “BERITA.Com” ::

Sabtu, 04 Juli 2009

OPINI


MUNGKINKAH INDONESIA MENJADI EKSPORTIR BERAS ?

Oleh: Redi Mulyadi,SP

ADA kabar menggembirakan yang telah dicapai sektor pertanian Indonesia. Betapa tidak! Kalau selama ini,Indonesia dikenal sebagai pengimpor beras terbesar,tapi kini berani menyatakan akan mengekspor beras.Mungkinkah? Hal itu tiada lain setelah berhasil mencatat sejarah menembus angka produksi gabah di atas 62 juta ton gabah kering giling (GKG) atau setara dengan 47 juta ton beras pada tahun 2008,dan surplus produksi beras Indonesia pada tahun 2009 diperkirakan mencapai 3,8 juta ton.Kelebihan produksi itu, Departemen Pertanian (Deptan) merencanakan akan mengekspor beras, setidaknya 1 juta ton pada pertengahan tahun 2009.

Alasannya relatif sederhana.Panen raya padi untuk tahun 2009 ini diperkirakan akan berlangsung dari bulan Februari-April.Pada bulan-bulan ini,padi yang dipanen berasal dari tanaman padi yang ditanam pada bulan Oktober-Desember 2008 lalu.Berdasarkan prediksi Deptan,realisasi tanam Oktober-Desember 2008 itu mencapai 4,64 juta hektar, di atas angka realisasi tanam Oktober-Desember 2007 lalu dengan luas 4,625 hektar.

Dengan luas areal mencapai 4,64 juta hektar,maka pada bulan Februari 2009 Indonesia diperkirakan akan panen gabah sebanyak 4,627 juta ton GKG,kemudian Maret 2009 panennya meningkat menjadi 9,454 juta ton GKG,pada april 2009 panen padi sebanyak 10,545 juta ton,dan pada Mei 2009 panen padi sebanyak 6,524 juta ton GKG. Dengan demikian,sepanjang tahun 2009 Indonesia menargetkan bias memproduksi gabah sebanyak 63,52 juta ton GKG atau setara dengan 47 juta ton beras.

Jika target produksi beras nasional pada tahun 2009 tersebut tercapai,maka diperkirakan Indonesia akan surplus beras sebanyak 3,8 juta ton,dan bahkan kita bisa ekspor beras sedikitnya 1 juta ton.Beberapa negara yang menjadi tujuan ekspor beras Indonesia di antaranya adalah Jepang,Timor Leste,Filipina,Malaysia dan negara lainnya.Konon kabarnya,beberapa negara itu sudah menyampaikan keinginannya untuk mengimpor beras dari Indonesia.

Namun,keputusan pasti ekspor beras tersebut masih menunggu bulan Juli 2009,yakni menunggu adanya realisasi keberhasilan produksi.Sebab,produksi padi sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim,serta kemungkinan adanya serangan hama dan penyakit. Walau begitu,ekspor beras ke luar negeri tetap bias dilakukan dalam waktu dekat ini, terutama untuk beras kualitas tinggi.Bahkan mulai bulan Februari 2009,Indonesia berencana akan mengekspor beras kualitas tinggi,tanpa harus menunggu realisasi produksi beras nasional sebagai acuan.

Hal menggembirakan,importer Jepang sudah melakukan penjajakan dengan pihak Bulog,termasuk memantau kualitas beras yang diinginkan oleh konsumen Jepang. Untuk periode ekspor beras ke Jepang akan berlangsung antara bulan Februari sampai Maret 2009 mendatang.

Adapun beras yang akan diekspor ke Negeri Sakura tersebut khusus beras kualitas super mencapai 5-10 kadar pecahan seperti beras Pandan Wangi,Cianjur,Padi Mulia dan Aromatik.Sedangkan volume beras yang akan diekspor ke Jepang yakni sekitar 10-20 ribu ton per bulan atau 120-140 ribu ton per tahun.Sementara itu,harga beras kualitas super di Jepang saat ini mencapai 1-2 dolar AS per kg.

Demikian pula,ada beberapa negara lain di kawasan ASEAN yang telah mengajukan permintaan impor beras dari Indonesia untuk kualitas medium pada tahun 2009 yakni Timor Leste,Filipina,Brunai Darussalam dan Malaysia.Namun hal itu masih harus menunggu kecukupan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang diperkirakan perhitungannya baru bias dilakukan pada bulan Juli-September 2009.Rencananya volume beras kualitas medium yang akan diekspor ke beberapa negara tersebut mencapai 1 juta – 1,5 juta ton sepanjang 2009.Ini peluang emas bagi para petani Indonesia untuk meningkatkan produksi padi ke depan.

Lantas,apa yang meski dipersiapkan untuk memenuhi permintaan pasar luar negeri terhadap produk beras nasional? Fokus kegiatan untuk peningkatan produksi padi tahun 2009 adalah menggenjot semangat kaum petani dan pengembangan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman & Sumberdaya Terpadu (SL PTT) dengan bantuan benih padi non-hibrida seluas 2 juta hektar bagi sekitar 80 kelompok tani yang tersebar di pelosok tanah air.dan sekolah lapang dengan bantuan benih padi hibrida seluas 5.000 hektar melibatkan sekitar 5.000 kelompok tani.

Pada pengembangan SL PTT ini diterapkan teknologi yang dapat meningkatkan produksi,salah satunya adalah penggunaan benih padi varietas unggul,termasuk hibrida.Varietas padi hibrida bias dinaikan sampai mencapai 500 ribu hektar dari 200 ribu hektar tahun 2008.Kalau ini bisa meningkat rata-rata 2 ton/hektar saja berarti ada tambahan produksi sekitar 1 juta ton.

Selain upaya itu,yakni mendorong penggunaan pupuk berimbang dan organik.Pemerintah telah meningkatkan pengadaan subsidi pupuk NPK,yakni tahun 2008 lalu sebanyak 1 juta ton,maka untuk tahun 2009 mencapai 1,5 juta ton.Begitu pun ketersediaan pupuk urea cukup memadai,misalnya tahun 2008 hanya 4,8 juta ton,maka tahun 2009 akan ditingkatkan menjadi 5,5 juta ton. Kemudian upaya pengadaan cadangan benih dan pestisida sebagai upaya untuk pengamanan produksi terhadap ancaman banjir,kekeringan maupun serangan hama penyakit.

Hal terpenting lainnya adalah penetapan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) baru,serta komitmen pemerintah melalui Bulog untuk menyerap gabah dan beras petani dalam jumlah yang lebih banyak lagi.Ini akan sangat membantu.Jika tahun 2008 lalu,penyerapan Bulog hanya sebanyak 2,3 juta ton beras,maka untuk tahun 2009 bisa mencapai 3,2 juta ton beras dari petani

Dengan dukungan stake holder dan tidak terjadi fenomena iklim yang ekstrem,maka sasaran produksi beras tahun 2009 akan dapat tercapai,sehingga optimis bahwa Indonesia bakal menjadi eksportir beras.Bukan importer beras lagi.Semoga! (Penulis adalah pemerhati agribisnis & koresponden HU Priangan Group Pikiran Rakyat)***

REDI MULYADI,SP

PO.Box: 05/IH

Tasikmalaya 46151

e-mail: redi_mulyadi2000@yahoo.co.id

No.Rekening: 909.36440.99 Bank MUAMALAT a/n.Redi Mulyadi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar