Sabtu, 15 Agustus 2009
BEDAH RUMAH
Kades: Dadang
WARGA DESA IMBANAGARA RENOVASI 11 RUMAH
TAK LAYAK
BERITA.Com
Sejak dilantik menjadi Kepala Desa Imbanagara Kec/Kab.Ciamis beberapa bulan lalu, Dadang telah membuktikan komitmennya saat kampanye pemilihan kepala desa (Pilkades), yakni ingin memperhatikan kehidupan rakyat kecil sebagai upaya mengentaskan kemiskinan.
Dan salah satunya, adalah melalui program “Bedah Rumah” terhadap rumah ‘kumuh’ tidak layak huni milik warga desa setempat. Dadang mengerahkan warga desanya untuk bergotong royong, disamping meminta bantuan kepada pihak lain, terutama donatur yang peduli.
“Alhamdulillah, sampai bulan Agustus 2009 ini kami sudah selesai membedah 11 rumah tidak layak huni milik warga dari keluarga tidak mampu, terutama miliki wanita jompo.”jelas Dadang kepada BERITA.Com
Dadang mengaku bangga kepada warga desanya, karena secara swadaya mengeluarkan dana serta secara sukarela bergotong-royong, sehingga telah berhasil merenovasi rumah tidak layak huni milik warga lainnya.
“Artinya, kepedulian terhadap sesama dan sifat kegotong-royongan warga Desa Imbanagara sampai saat ini masih sangat kuat. Semoga saja tetap berlanjut.”tuturnya.
Dadang menjelaskan, sebenarnya masih ada sejumlah rumah kumuh yang tidak layak huni milik warga Desa Imbanegara di tiap kedusunan yang perlu ‘dibedah’ renovasi. “Bila melihat sikap kepedulian dan semangat kegotong-royongan yang ada, saya optimiswarga kami dapat melakukan bedah rumah, meski dilakukan secara bertahap.”kata Dadang.
BERITA.Com yang melihat langsung kondisi fisik bangunan rumah yang dibedah warga, yakni semuanya permanent. Karena itu tak mengherankan, bila untuk merenovasi satu unit rumah berkisar antara Rp.15 juta – Rp.25 juta.
“Semua dana untuk bedah rumah itu merupakan hasil swadaya masyarakat dan sisanya bantuan donatur yang peduli terhadap kemiskinan.”ungkap Kades Imbanagara.(REDI MULYADI)***
KISAH HIDUP 'SANG PETUALANG' WANIR
Wanir:
SANG PETUALANG DARI BENGKULU
WANIR, begitu nama pria berkaca minus dan humoris ini. Siapa mengira, kalau PNS di lingkungan Pemkot Tasikmalaya ini, adalah seorang “petualang” dari Bengkulu Utara dalam mengarungi hidup dan kehidupannya yang penuh liku-liku.
Walau berliku, Wanir mengaku bersyukur kepada Allah SWT, karena akhirnya ia diangkat jadi PNS di era pemerintahan Indonesia Bersatu Presiden Susilo Bambang Yudhoyono,setelah selama 14,9 tahun ‘bertualang’ sebagai TKK .
“Juga perhatian Pemkot Tasikmalaya yang memasukkan seluruh TKK pada data base, termasuk nama saya, yang diangkat jadi PNS 2007 lalu.” ungkapnya.
Lantas, kenapa ia disebut Sang Petualang dari Bengkulu?
Karena sebelum bekerja hingga jadi PNS, ternyata kisah hidup Wanir cukupmenarik untuk disimak. Betapa tidak! Pada awal tahun 1998 lalu, setelah lulus SMP, ia berniat keliling Indonesia dengan cara berjalan kaki dari kota kelahirannya yakni Kabupaten Bengkulu Utara.
“Pada waktu itu, tujuan utama saya keliling Indonesia dengan berjalan kaki, maksudnya untuk sekedar mencari pengalaman dan berencana akan membukukan kisah perjalanan hidup saya menjelejahi 27 provinsi. Buku itu kelak akan menjadi warisan berharga bagi anak cucu. “kenangnya.
Selain mendapat restu dari kedua orangtuanya terncinta, Tuhir dan Ny.Nurlela, ia pun dibekali surat jalan yang lengkap; mulai dari RT sampai Bupati Bengkulu Utara, Kapolres, Kapolwil, Dandim, ABRI (AD,AL, dan AU) serta Gubernur dan Kapolda. Wuiiihhh…hebat eung!
Bukan cuma itu, karena keberangkatan ‘Sang Petualang’ dilepas oleh Sekda Kab.Bengkulu yang saat itu dijabat oleh Drs.Zakaria Manan dan dihadiri ribuan warga yang tumplek di halaman kantor bupati.
“Rencananya, saya dapat mengelilingi Indonesia untuk menjelajahi 27 provinsi selama 5 tahun dengan berjalan kaki, kecuali menyeberang lautan he…he…”jelas Ny.Betty ini.
Singkat cerita, Wanir muda itu pun selama 8 bulan mengelilingi 7 provinsi yang ada di wilayah Pulau Sumatera. Kemudian ia menyeberang ke Pulau Jawa dan terdampar di ‘kota dodol’ Kab.Garut. Entah mengapa, ketika tiba di Garut pada tahun 1998, ia justru jadi berubah pikiran 180 derajat. “Sebab,bukannya melanjutkan perjalanan keliling Bumi Pertiwi, tapi justru saya ingin mencari pekerjaan.”tuturnya.
Bapak tiga anak ini mengisahkan, selama bertualang tersebut sempat dua kali mengalami peristiwa yang mengerikan. Pertama kali, ketika ia masih berada di perbatasan Bengkulu-Padang dikeroyok oleh 2 orang preman tanpa sebab musabab.
Peristiwa kedua kalinya, ketika Wanir baru tiba di Kota Cimahi, yang juga tiba-tiba dicegat oleh 3 orang preman dan bahkan hendak membuangnya ke dasar jurang. Itupun tanpa sebab yang jelas, misalnya, minta uang tidak dikasih.”Alhamdulillah, saya bisa selamat berkat adanya lindungan Allah SWT, karena preman-preman itu melepaskan saya begitu saja.”
Selama berada di Garut, Wanir masuk organisasi KNPI yang dipimpin Yoyo Sunaryo, dan sempat pula ditawari bekerja di kantor BKKBN. Namun, ia menolak karena honornya Cuma Rp.10.000/bulan.
Selanjutnya ia belerja di KOPIN (Koperasi Pedagang Induk ) Garut yang diketuai Sukirman, sesame orang Bengkulu, koperasi ini membuka cabang di Tasikmalaya dan ia ditugaskan ke Tasikmalaya bersama rekan lainnya. Namun, koperasi itu gulung tikar. Kemudian ia pun sempat bekerja di Koperasi Mitra Batik sampai tahun 1992 sebelum akhirnya koperasi ini bangkut juga.
Pada bulan Agustua 1992- Januari 1993, Wanir bekerja bekerja di kantor Kelurahan Nagarasari sebagai tenaga honorer. Lantas dipindahkan ke kantor Kec.Cipedes sampai Maret 1995. Sejak bulan April 1995 sebagai TKK di bagian umum Kotatif Tasikmalaya sampai berubah statusnya menjadi Pemkot Tasikmalaya.
Selama menjadi TKK sampai tahun 2006 lalu, Wanir sudah berulangkali mengikuti seleksi CPNS, tapi selalu gagal dan gagal lagi. Walau begitu, ia tak pernah patah arah, semangat bertualang terus menggebu tetapi kali ini menjadi PNS. Pada akhirnya, Wanir bersama TKK lain masuk database tahun 2007, dimana saat ikut seleksi CPNS diprioritaskan hingga diangkat menjadi PNS.
“Alhamdulillah, petualangan saya sebagai TKK berakhir, dengan diangkatnya menjadi PNS. Saya sangat bersyukur sekali kepada Allah SWT atas kemurahan-Nya.”ungkap Wanir.
Karena itu, tidaklah berlebihan bila Wanir sangat berterima kasih kepada pemerintah terutama Pemkot Tasikmalaya yang menghargai karya (kerja) dan jasa para TKK atau sukwan dengan memberi kesempatan menjadi PNS setelah sekian lama penuh penantian dan perasaan was-was.
Sang petualang dari Bengkulu ini mengaku, meski keliling Indonesia tidak kesampaian, tetapi cita-cita ingin diangkat jadi PNS dengan penuh perjuangan dan doa, akhirnya kesampaian juga di Kota Tasikmalaya.
“Namun yang pasti, bahwa bertualang menjelajahi 8 provinsi dengan berjalan kaki pada waktu itu, tentu saja menjadi catatan tersendiri bagi hidup saya. Perjalanan mengelilingi 8 provinsi itu tak akan pernah terlupakan dalam hidup saya.”tutur Wanir menutup obrolan.(REDI MULYADI)****
KAWAH GUNUNG GALUNGGUNG
MENDAKI KAWAH GUNUNG GALUNGGUNG
HARI Minggu kemarin,aku diajak rekan Papa untuk berwisata,katanya sih ingin refresing.Kebetulan anak rekan papa,sebut saja Om Dede Fuad,masih kecil dan duduk dibangku kelas satu SD.Jadi,aku ada teman.
Lantas,objek wisata yang dipilih pun tidak jauh,masih di Tasikmalaya.Pilihannya jatuh ke objek wisata alam Kawah Gunung Galunggung.Dengan kendaraan roda empat, kami sekeluarga meluncur ke objek wisata yang tahun 1982 meletus,bahkan sampai ke puncak,tepatnya di kaki Gunung Jadi yang ternyata sudah banyak pengunjung.
Nah,kami sekarang harus mencapai puncak Kawah Gunung Galunggung,dengan mendaki tangga beton.”Kamu pasti nggak bakal sampai ke kawahnya.Lihat saja tuh tinggi banget…”kata papa.
Tapi aku yakin bisa mencapai puncak Kawah Gunung Galunggung dengan menaiki 630 buah tangga beton.Dengan semangat yang membara,akhirnya saya bisa menaklukkannya dan sampai juga di bibir Kawah Gunung Galunggung yang sudah tidak aktif lagi.Sungguh capek banget…..!
Setelah berada di puncak,selain aku bisa melihat kedalaman dan luasnya Kawah Gunung Galunggung bekas meletus 5 April 1982 itu,juga bisa melihat para pengunjung di tempat parkir mobil sebesar ibu jari.Kecil banget.Bahkan,kita bisa menikmati panorama alam hingga melihat Kota Tasik dari kejauhan.Rasa capek saat mendaki pun sedikit terobati.
Pada saat berada di puncak Kawah Gunung Galunggung,aku sempat berguman, betapa Tuhan Maha Agung menciptakan semesta alam ini dengan seisinya. Juga panorama alam yang maha indah.
Setelah turun dari puncak kawah Gunung Galunggung,kami pun sempat mampir ke objek wisata Cipanas Galunggung,yang berada di kaki Gunung Galunggung.Setelah capek mendaki puncak gunung,kita bisa mandi (berenang dan berendam) di kolam renang yang airnya panas.Konon,airnya yang panas itu bisa menyembuhkan berbagai penyakit kulit dan rematik.
Terakhir,kami sekeluarga makan timbel di gazebo yang ada di Cipanas Galunggung. Hmm…nikmatnya.( IRENIA SAKINAH,pelajar SDN Nagarasari 3 Kelas 3 Jl.Cigeureung No.39 Tasikmalaya 46132)*****
Senin, 10 Agustus 2009
Kab.Tasikmalaya Berhasil Kembangkan Pertanian
Pola Tanam Padi Organik (SRI)
Oleh: Redi Mulyadi
TATKALA memasuki abad 21, masyarakat dunia mulai sadar akan bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintetis dalam pertanian.Karena itu, orang arif dalam memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan. Dengan demikian, gaya hidup sehat “Back to Nature” telah menjadi trend baru meninggalkan pola hidup lama yang menggunakan bahan kimia non-alami seperti pupuk anorganik, pestisida kimia sintetis dan hormone tumbuh dalam produksi pertanian.
Pangan yang sehat dan bergizi tinggi dapat diproduksi dengan metode baru yang dikenal dengan pertanian organik. Pertanian organik adalah teknik budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan produk-produk pertanian, terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumennya serta tidak merusak lingkungan. Gaya hidup sehat demikian telah melembaga secara internasional yang mensyaratkan jaminan bahwa produk pertanian harus beratribut aman dikonsumsi (food safety attributes), kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes) dan ramah lingkungan (eco-labelling attributes). Preferensi konsumen seperti ini menyebabkan permintaan produk pertanian organik dunia meningkat pesat.
Hal tersebut rupanya disadari sepenuhnya oleh masyarakat tani (kaum petani) di Kabupaten Tasikmalaya yang sangat peduli terhadap keamanan pangan tanpa mengesampingkan produktivitas hasil panen dari usahatani yang mereka garap selama ini.
Penulis salut terhadap kebijakan Pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya, dimana Bupati Drs.H.Tatang Farhanul Hakim melalui Kepala Dinas Pertanian Ir.H.Henry Nugroho MP dalam menggalakkan pola tanam padi organik atau SRI yang ramah lingkungan, dengan menggerakkan para petugas PPL di tiap desa untuk memberikan penyuluhan kepada anggota kelompok tani-kelompok tani dan petani agar mendukung program Gerakan Pengembangan Pertanian Ramah Lingkungan melalui Metode SRI.
Sebagaimana diketahui bahwa dalam pola tanam padi SRI dinilai ramah lingkungan , karena tidak menggunakan bahan kimia baik dalam pemupukan maupun upaya pemberantasan hama-penyakit. Selain itu, pola tanam padi SRI ternyata hemat biaya produksi karena benih padi yang ditanam hanya satu butir, pemupukan yang digunakan pupuk kompos/organic yang murah harganya, kemudian pemberantasan hama-penyakit tanaman dengan pestisida ‘alami’ nabati.
Walau demikian, hasil pertanian dengan pola tanam padi SRI sangat menguntungkan bagi para petani itu sendiri, hasil panennya bisa mencapai 9-11 ton per hektar. Sedangkan dengan cara yang umum dilakukan petani biasanya hanya menghasilkan sekitar 6-7 ton per hektar. Juga harga padi (beras) SRI cukup mahal.
Bila dicermati, bahwa program Gerakan Pengembangan Pertanian Ramah Lingkungan melalui Metode SRI yang dicanangkan Pemkab Tasikmalaya dinilai cukup berhasil, sehingga tidak berlebihan bila Bupati Tatang Farhanul Hakim pun menerima penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada peringatan Hari Krida Pertanian, beberapa waktu lalu.
Puncaknya, kini para petani padi SRI di Kabupaten Tasikmalaya sejak awal bulan Agustus 2009 sudah mulai mengekspor hasil panennya ke luar negeri, khususnya ke Amerika dan Malaysia sebanyak 40 ton beras atau dua konteiner, masing-masing negara satu konteiner.
Padahal, untuk bisa mengekspor beras tersebut harus memenuhi beberapa persyaratan khusus yang sangat ketat, terutama memperoleh sertifikasi organik dari badan sertifikat organik internasional yaitu Institut for Marketecology (IMO) yang bermarkas di Swiss. Dengan memiliki sertifikasi organik dari IMO, maka petani padi SRI di kabupaten ini sudah dapat mengekspor padi ‘organik’ ramah lingkungan ke berbagai negara. Ini suatu kabar yang menggembirakan bagi para petani padi SRI di Kabupaten Tasikmalaya.
Kepala Dinas Pertanian Kab.Tasikmalaya Ir.H.Henry Nugroho MP kepada Buser Trans di ruang kerjanya menjelaskan, bahwa dari 335 hektar luas lahan pertanian untuk penanaman padi organik yang dipersiapkan, ternyata baru seluas 150 hektar yang sudah lolos proses sertifikasi dan memiliki sertifikat organik dari IMO Swiss. Sedangkan sisanya yang seluas 175 hektar masih dalam masa sanggah dan belum dinyatakan seratus persen
organik karena airnya diduga masih tercemar oleh pupuk kimia dari sawah lain.
Hal yang pasti, dengan memiliki sertifikasi organik dari IMO sehingga bisa mengekspor beras ke Amerika dan Malaysia khususnya, merupakan peluang emas bagi petani padi SRI untuk lebih meningkatkan produktivitas hasil panennya dan bagi Pemkab Tasikmalaya sendiri merupakan suatu keberhasilan dalam program Gerakan Pengembangan Pembangunan Pertanian Ramah Lingkungan melalui Metode SRI. Semoga..!!
Penulis adalah wartawan Buser Trans dan pemerhati pembangunan pertanian
Pola Tanam Padi Organik (SRI)
Oleh: Redi Mulyadi
TATKALA memasuki abad 21, masyarakat dunia mulai sadar akan bahaya yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintetis dalam pertanian.Karena itu, orang arif dalam memilih bahan pangan yang aman bagi kesehatan dan ramah lingkungan. Dengan demikian, gaya hidup sehat “Back to Nature” telah menjadi trend baru meninggalkan pola hidup lama yang menggunakan bahan kimia non-alami seperti pupuk anorganik, pestisida kimia sintetis dan hormone tumbuh dalam produksi pertanian.
Pangan yang sehat dan bergizi tinggi dapat diproduksi dengan metode baru yang dikenal dengan pertanian organik. Pertanian organik adalah teknik budidaya pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami tanpa menggunakan bahan-bahan kimia sintetis. Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan produk-produk pertanian, terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen dan konsumennya serta tidak merusak lingkungan. Gaya hidup sehat demikian telah melembaga secara internasional yang mensyaratkan jaminan bahwa produk pertanian harus beratribut aman dikonsumsi (food safety attributes), kandungan nutrisi tinggi (nutritional attributes) dan ramah lingkungan (eco-labelling attributes). Preferensi konsumen seperti ini menyebabkan permintaan produk pertanian organik dunia meningkat pesat.
Hal tersebut rupanya disadari sepenuhnya oleh masyarakat tani (kaum petani) di Kabupaten Tasikmalaya yang sangat peduli terhadap keamanan pangan tanpa mengesampingkan produktivitas hasil panen dari usahatani yang mereka garap selama ini.
Penulis salut terhadap kebijakan Pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya, dimana Bupati Drs.H.Tatang Farhanul Hakim melalui Kepala Dinas Pertanian Ir.H.Henry Nugroho MP dalam menggalakkan pola tanam padi organik atau SRI yang ramah lingkungan, dengan menggerakkan para petugas PPL di tiap desa untuk memberikan penyuluhan kepada anggota kelompok tani-kelompok tani dan petani agar mendukung program Gerakan Pengembangan Pertanian Ramah Lingkungan melalui Metode SRI.
Sebagaimana diketahui bahwa dalam pola tanam padi SRI dinilai ramah lingkungan , karena tidak menggunakan bahan kimia baik dalam pemupukan maupun upaya pemberantasan hama-penyakit. Selain itu, pola tanam padi SRI ternyata hemat biaya produksi karena benih padi yang ditanam hanya satu butir, pemupukan yang digunakan pupuk kompos/organic yang murah harganya, kemudian pemberantasan hama-penyakit tanaman dengan pestisida ‘alami’ nabati.
Walau demikian, hasil pertanian dengan pola tanam padi SRI sangat menguntungkan bagi para petani itu sendiri, hasil panennya bisa mencapai 9-11 ton per hektar. Sedangkan dengan cara yang umum dilakukan petani biasanya hanya menghasilkan sekitar 6-7 ton per hektar. Juga harga padi (beras) SRI cukup mahal.
Bila dicermati, bahwa program Gerakan Pengembangan Pertanian Ramah Lingkungan melalui Metode SRI yang dicanangkan Pemkab Tasikmalaya dinilai cukup berhasil, sehingga tidak berlebihan bila Bupati Tatang Farhanul Hakim pun menerima penghargaan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada peringatan Hari Krida Pertanian, beberapa waktu lalu.
Puncaknya, kini para petani padi SRI di Kabupaten Tasikmalaya sejak awal bulan Agustus 2009 sudah mulai mengekspor hasil panennya ke luar negeri, khususnya ke Amerika dan Malaysia sebanyak 40 ton beras atau dua konteiner, masing-masing negara satu konteiner.
Padahal, untuk bisa mengekspor beras tersebut harus memenuhi beberapa persyaratan khusus yang sangat ketat, terutama memperoleh sertifikasi organik dari badan sertifikat organik internasional yaitu Institut for Marketecology (IMO) yang bermarkas di Swiss. Dengan memiliki sertifikasi organik dari IMO, maka petani padi SRI di kabupaten ini sudah dapat mengekspor padi ‘organik’ ramah lingkungan ke berbagai negara. Ini suatu kabar yang menggembirakan bagi para petani padi SRI di Kabupaten Tasikmalaya.
Kepala Dinas Pertanian Kab.Tasikmalaya Ir.H.Henry Nugroho MP kepada Buser Trans di ruang kerjanya menjelaskan, bahwa dari 335 hektar luas lahan pertanian untuk penanaman padi organik yang dipersiapkan, ternyata baru seluas 150 hektar yang sudah lolos proses sertifikasi dan memiliki sertifikat organik dari IMO Swiss. Sedangkan sisanya yang seluas 175 hektar masih dalam masa sanggah dan belum dinyatakan seratus persen
organik karena airnya diduga masih tercemar oleh pupuk kimia dari sawah lain.
Hal yang pasti, dengan memiliki sertifikasi organik dari IMO sehingga bisa mengekspor beras ke Amerika dan Malaysia khususnya, merupakan peluang emas bagi petani padi SRI untuk lebih meningkatkan produktivitas hasil panennya dan bagi Pemkab Tasikmalaya sendiri merupakan suatu keberhasilan dalam program Gerakan Pengembangan Pembangunan Pertanian Ramah Lingkungan melalui Metode SRI. Semoga..!!
Penulis adalah wartawan Buser Trans dan pemerhati pembangunan pertanian
Langganan:
Postingan (Atom)
